LangSatu.Com | Meulaboh (Aceh Barat) Jum'at 10 Juli 2026
Bagaimana jika manusia mampu membaca sesuatu yang tersembunyi seperti membaca buku yang terbuka?
Pertanyaan itu akan menjadi pintu masuk dalam bedah buku “Kasyaf Sejati: Ilmu Membaca yang Tersembunyi Seperti Membaca Buku Terbuka” karya Ustadz Syamsul Kamal, yang akan digelar Akademi Kehidupan Qur’ani (AKQ) pada Minggu, 12 Juli 2026, di Tugu Teuku Umar, Batee Puteh, Meulaboh, Aceh Barat.
Kasyaf sering dipahami sebagai ilmu tingkat tinggi yang berkaitan dengan tersingkapnya sesuatu yang tersembunyi. Ia kerap digambarkan sebagai kemampuan mengetahui sesuatu di balik yang tampak, bahkan seolah-olah mampu membaca sesuatu yang tertutup seperti membaca buku yang terbuka.
Namun, melalui buku ini, Syamsul Kamal justru membawa pembaca kepada pertanyaan yang lebih dekat dan mungkin lebih mengguncang: apa gunanya mampu melihat sesuatu yang tersembunyi pada orang lain jika iri, riya, kesombongan, kepentingan, dan ego yang bersembunyi dalam diri sendiri belum mampu kita lihat?
Menurut Syamsul Kamal, manusia sering sangat peka membaca perubahan sikap orang lain, tetapi gagal membaca perubahan niat dalam dirinya sendiri. Manusia mudah mencurigai riya dalam ibadah orang lain, tetapi sulit menyadari ketika amalnya sendiri mulai mengharapkan pujian.
“Kita mampu mengingat kesalahan seseorang selama bertahun-tahun, tetapi hanya membutuhkan waktu singkat untuk memaafkan kesalahan diri sendiri. Kita ingin mengetahui apa yang tersembunyi di hati manusia, tetapi jarang berani bertanya: apa sebenarnya yang sedang bersembunyi di dalam hati saya?” kata Syamsul Kamal.
Buku “Kasyaf Sejati” menggunakan perumpamaan mikroskop dan teleskop untuk menggambarkan kekeliruan manusia dalam melihat diri sendiri dan menilai orang lain.
Menurutnya, manusia sering menggunakan mikroskop untuk melihat kesalahan orang lain. Satu kesalahan kecil diperbesar, satu kekurangan terus diingat, bahkan satu masa lalu terkadang dijadikan dasar untuk menilai seluruh kehidupan seseorang.
Sebaliknya, ketika melihat diri sendiri, manusia justru menggunakan teleskop. Kesalahan terlihat kecil, dosa terasa jauh, sementara berbagai alasan dan pembelaan selalu tersedia untuk membenarkan diri.
Karena itu, buku tersebut mengajak pembaca membalik cara menggunakan kedua lensa tersebut.
Mikroskop seharusnya lebih dahulu diarahkan kepada diri sendiri: melihat niat yang tersembunyi di balik kebaikan, memeriksa ego di balik kemarahan, menemukan keinginan dipuji di balik amal, serta mengenali kesombongan yang terkadang memakai pakaian kesalehan.
Sementara teleskop digunakan untuk melihat kehidupan orang lain secara lebih jauh, luas, dan utuh. Sebab, seseorang tidak selesai hanya pada satu kesalahan yang terlihat.
Manusia memiliki perjalanan. Pendosa dapat bertaubat. Orang yang jatuh dapat bangkit. Seseorang yang dipandang buruk hari ini dapat memiliki akhir kehidupan yang jauh lebih baik daripada orang yang merasa dirinya telah baik.
“Boleh jadi orang yang kita pandang buruk sedang menangis dalam taubat yang tidak kita ketahui. Dan boleh jadi, kita yang merasa baik sedang memelihara kesombongan yang belum mampu kita lihat,” ujarnya.
Syamsul Kamal menjelaskan, “Kasyaf Sejati” bukan ditulis untuk mendorong manusia sibuk mencari rahasia orang lain. Buku tersebut justru mengajak pembaca menghadapi pekerjaan yang jauh lebih sulit, yaitu keberanian melihat diri sendiri secara jujur tanpa terus-menerus melakukan pembelaan.
Menurutnya, manusia sering ingin mengetahui siapa yang ikhlas dan siapa yang berpura-pura, siapa yang mencintai dan siapa yang membenci, serta apa yang tersembunyi di balik sikap seseorang. Padahal, pekerjaan yang lebih mendesak adalah membaca niat, iri, riya, kepentingan, kebencian, dan ego yang mungkin hidup tanpa disadari di dalam diri sendiri.
Bedah buku “Kasyaf Sejati” merupakan bagian dari gerakan literasi yang dikembangkan AKQ. Melalui kegiatan tersebut, membaca tidak hanya dimaknai sebagai aktivitas memahami kata dan halaman, tetapi juga sebagai jalan untuk membangun kesadaran, memperbaiki cara pandang, dan mendorong perubahan dalam kehidupan nyata.
AKQ berharap kegiatan yang digelar di kawasan Tugu Teuku Umar tersebut dapat menjadi ruang diskusi sekaligus muhasabah, terutama bagi generasi muda, untuk kembali memeriksa cara manusia memandang dirinya dan memperlakukan sesama.
Sebab, manusia terkadang mampu membaca perubahan wajah orang lain, tetapi gagal membaca perubahan niatnya sendiri. Mampu mengenali kesalahan orang lain dengan sangat rinci, tetapi tidak menyadari kesombongan yang tumbuh perlahan di dalam dirinya.
Buku dapat selesai dibaca dalam beberapa jam. Namun, membaca diri sendiri mungkin membutuhkan waktu seumur hidup.
Mungkin seseorang akan datang ke bedah buku ini karena penasaran ingin mengetahui bagaimana membaca sesuatu yang tersembunyi seperti membaca buku terbuka.
Namun, boleh jadi ia akan pulang dengan sebuah kesadaran baru: bahwa sesuatu yang paling lama tersembunyi ternyata bukan berada pada diri orang lain, melainkan di dalam dirinya sendiri.
Bedah buku “Kasyaf Sejati” akan berlangsung pada Minggu, 12 Juli 2026, di Tugu Teuku Umar, Batee Puteh, Meulaboh, Aceh Barat. Kegiatan tersebut diselenggarakan oleh Akademi Kehidupan Qur’ani (AKQ).
(Rj)



0 Komentar