Oleh:Zulfadli pendiri LSM Beungong Lam Jaro
LangSatu.Com | Kota Langsa (Aceh) w5/6/2026 - Di ruang rapat yang beralaskan karpet tebal dan berpenyejuk udara sejuk, berkumpullah para pejabat. Mereka duduk di kursi berbalut kulit halus, di meja terbentang berkas-berkas anggaran yang dipotong, dan mulut mereka tak henti berbicara dengan nada mengeluh.
Susah sekali menjadi pejabat zaman sekarang, "Anggaran dikurangi di sana-sini, setiap langkah dipantau Lembaga Swadaya Masyarakat, setiap ucapan direkam awak media. Tak ada lagi ruang bergerak" kata seorang pria berjas rapi sambil menghela napas panjang.
Yang lain mengangguk setuju, lalu salah seorang menambahkan: "Padahal kami ingin berbuat banyak. Tapi lihatlah keadaan ini. Jika begini terus, bagaimana mungkin angka kemiskinan turun? Bagaimana rakyat makmur?"
Namun, di sudut ruangan, ada seorang lelaki tua yang hanya diam mendengarkan. Matanya tajam menatap satu per satu wajah mereka, hingga akhirnya ia berdiri dan suaranya bergema di seluruh ruangan.
"Kalian semua mengeluh dan berniat mencalonkan diri lagi, lalu apa yang kalian harapkan jika duduk kembali di kursi itu?" tanyanya tenang namun tegas. "Apakah hanya dengan duduk di sana, angka kemiskinan akan turun sendiri? Apakah kemakmuran akan datang dengan sendirinya karena kalian memegang jabatan?"
Suasana menjadi hening. Tak ada yang berani menjawab.
Lelaki tua itu melanjutkan, suaranya kini semakin lantang: "Kalian ini para pembohong! Jika sisa uang dari pejabat-pejabat sebelumnya benar-benar digunakan untuk memakmurkan rakyat, pasti negeri ini sudah berubah indah. Sebenarnya, kalian datang ke sini hanya untuk mencari pekerjaan dan cara kalian mendapatkan posisi itu adalah dengan menjual nama rakyat demi kepentingan sendiri."
Ia berhenti sejenak, menatap jendela yang terbuka sedikit ke arah langit, lalu berkata lagi dengan nada sedih namun penuh keyakinan:
"Ingatlah, jika bukan hukum Allah yang dipegang, semuanya hanya kebohongan semata. Lihatlah kenyataannya Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 pun sering kali kalian sisihkan. Kalian lebih memilih mematuhi peraturan buatan pemerintah yang kalian ciptakan sendiri, hanya demi melindungi keuntungan kelompok kalian."
"Kita ini sebenarnya termasuk golongan yang kurang percaya pada petunjuk Ilahi," tambahnya pelan namun menusuk hati. "Kita lebih mengandalkan hukum buatan manusia yang bisa diubah-ubah sesuka hati.
Lihatlah para pemimpin kita mereka lebih takut pada teguran atasan daripada takut kepada Tuhan Yang Maha Melihat segala perbuatan."
Salah satu pejabat mencoba membela diri, berkata bahwa mereka tetap berusaha menjadi orang baik. Namun lelaki tua itu tersenyum getir, lalu melontarkan pertanyaan yang membuat mereka terdiam sejenak:
"Kalian bilang kalian orang baik? Baik dari mana? Apakah baik menurut mata Dajjal yang menyukai kemewahan, kekuasaan, dan kebohongan?"
Tak ada lagi suara di ruangan itu. Hanya tersisa keheningan yang menyadarkan mereka bahwa jabatan sejatinya bukanlah tempat untuk mencari keuntungan pribadi, melainkan amanah berat yang kelak akan dipertanggungjawabkan bukan hanya di hadapan manusia, melainkan di hadapan Sang Pencipta Alam Semesta.(*)



0 Komentar