LangSatu.Com | MEULABOH, (ACEH BARAT) — Apakah seorang Muslim harus menyelesaikan seluruh ilmu fiqih terlebih dahulu sebelum mempelajari tasawuf? Apakah syariat harus dipahami sampai tuntas sebelum seseorang boleh menapaki jalan thariqat, hakikat, dan ma'rifat?
Atau justru sejak awal, dimensi lahir dan batin harus berjalan beriringan dalam perjalanan seorang hamba menuju Allah?
Pertanyaan tersebut menjadi salah satu gagasan utama dalam buku terbaru karya Ustadz Syamsul Kamal berjudul Islam Secara Kaffah: Fiqih Dulu atau Tasawuf Dulu? — Syari'at, Thariqat, Hakikat, dan Ma'rifat dalam Satu Kesatuan Perjalanan Menuju Allah.
Buku ini lahir dari kegelisahan terhadap kecenderungan sebagian umat yang mempertentangkan fiqih dan tasawuf, syariat dan hakikat. Penulis mengajak pembaca melihat Islam sebagai satu kesatuan yang mencakup dimensi lahir dan batin.
Menurut gagasan yang ditawarkan dalam buku tersebut, pertanyaan yang lebih mendasar bukan hanya "Fiqih dulu atau tasawuf dulu?", melainkan "Sudahkah Islam hidup secara kaffah dalam diri kita?"
Buku ini menekankan bahwa ketaatan lahiriah perlu disertai dengan pembinaan batin. Sebab, ibadah yang benar tidak hanya berkaitan dengan kesesuaian amal terhadap syariat, tetapi juga dengan keikhlasan, kebersihan hati, dan akhlak.
Sebaliknya, pembicaraan tentang hakikat dan ma'rifat juga tidak dapat dilepaskan dari ketaatan kepada syariat. Karena itu, syariat, thariqat, hakikat, dan ma'rifat dipandang sebagai rangkaian perjalanan yang saling berkaitan dalam proses seorang hamba menuju Allah.
Dalam kerangka keilmuan, fiqih membimbing amal lahiriah, tauhid meluruskan keyakinan, tasawuf mendidik jiwa dan membersihkan hati, sementara kesufian mengajak manusia menyelami perjalanan ruhani yang lebih dalam.
Buku ini juga mengajak pembaca memahami tiga dimensi utama agama, yakni Iman, Islam, dan Ihsan, sebagai satu kesatuan.
Iman menjadi landasan keyakinan, Islam diwujudkan melalui ketundukan dan amal berdasarkan syariat, sedangkan Ihsan menghadirkan kesadaran batin dalam menjalani kehidupan dan beribadah kepada Allah.
Ketiganya tidak semestinya dipisahkan. Iman memberikan keyakinan, Islam memberikan bentuk pengamalan, dan Ihsan memberikan kedalaman penghayatan.
Dari perspektif tersebut, seseorang tidak harus menunggu selesai belajar syariat untuk mulai membersihkan hati. Belajar agama merupakan proses sepanjang hayat. Ketika belajar shalat, seorang Muslim tidak hanya belajar gerakan dan ketentuannya, tetapi juga belajar menghadirkan hati. Dalam puasa, seseorang tidak hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga melatih diri mengendalikan hawa nafsu.
AKQ GELAR BEDAH BUKU
Untuk mendalami gagasan tersebut, Akademi Kehidupan Qur'ani (AKQ) akan menggelar Bedah Buku Islam Secara Kaffah: Fiqih Dulu atau Tasawuf Dulu? pada Minggu, 26 Juli 2026, pukul 08.00–10.00 WIB, bertempat di Teuku Teuku Umar, Batee Puteh, Meulaboh, Aceh Barat.
Kegiatan ini diharapkan menjadi ruang membaca, merenung, dan berdiskusi mengenai bagaimana Islam dapat dipahami dan dijalani secara utuh.
Bedah buku tersebut tidak hanya diarahkan untuk membahas isi buku, tetapi juga menjadi momentum refleksi bagi peserta untuk melihat kembali hubungan antara ilmu, iman, amal, akhlak, dan kesadaran batin dalam kehidupan sehari-hari.
Pada akhirnya, buku Islam Secara Kaffah mengajak umat untuk tidak terjebak dalam pertentangan antara fiqih dan tasawuf, syariat dan hakikat, atau lahir dan batin. Seluruhnya diharapkan dapat berjalan secara seimbang dan bermuara pada satu tujuan, yaitu semakin mengenal Allah, semakin taat kepada-Nya, semakin baik akhlaknya, dan semakin menyadari hakikat dirinya sebagai hamba Allah.(*)



0 Komentar